Inspirational Stories Archives

57 Sen

conwellhattie may2

57 Sen

Seorang anak gadis kecil sedang berdiri terisak
didekat pintu masuk sebuah gereja
yang tidak terlalu besar, ia baru saja tidak
diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena
“sudah terlalu penuh”.

Seorang pastur lewat didekatnya dan menanyakan kenapa
si gadis kecil itu menangis?

“Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu” kata si gadis kecil.

Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak-acakan
dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti
dan bisa menduga sebabnya si gadis kecil tadi
tidak disambut masuk ke Sekolah Minggu.
Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk
ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja dan ia
mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk si gadis kecil.

Sang gadis kecil ini begitu mendalam tergugah
perasaannya, sehingga pada waktu sebelum tidur dimalam itu,
ia sempat memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya
yang seolah-olah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Jesus.

Ketika ia menceritakan hal ini kepada orang tuanya,
yang kebetulan merupakan orang tak berpunya,
sang ibu menghiburnya bahwa si gadis masih beruntung
mendapatkan pertolongan dari seorang pastur.
Sejak saat itu, si gadis kecil berkawan dengan sang pastur.

Dua tahun kemudian, si gadis kecil meninggal
di tempat tinggalnya didaerah kumuh,
dan sang orang tuanya meminta bantuan dari
si pastur yang baik hati untuk prosesi pemakaman
yang sangat sangat sederhana.
Saat pemakaman selesai
dan ruang tidur si gadis di rapihkan,
sebuah dompet usang, kumal dan sobek sobek ditemukan,
tampak sekali bahwa dompet itu adalah dompet yang
mungkin ditemukan oleh si gadis kecil dari tempat sampah.
Didalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 sen
dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang jelas
kelihatan ditulis oleh seorang anak kecil yang isinya:

“Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar
gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak
anak anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu”

Rupanya selama 2 tahun, sejak ia tidak dapat masuk ke
gereja itu, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan
uangnya sampai terkumpul sejumlah 57 sen
untuk maksud yang sangat mulia.

Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini,
matanya sembab dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya.
Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil ini,
sang pastur segera memotivasi para pengurus dan
jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil ini untuk memperbesar bangunan gereja
Namun Ceritanya tidak berakhir sampai disini.
Suatu perusahaan koran yang besar mengetahui berita ini
dan mempublikasikannya terus menerus.
Sampai akhirnya seorang Pengembang membaca berita ini
dan ia segera menawarkan suatu lokasi yang berada didekat gereja kecil itu dengan harga 57 sen,
setelah para pengurus gereja menyatakan bahwa mereka
tak mungkin sanggup membayar lokasi sebesar dan sebaik itu.

Para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan
donasi dan melakukan pemberitaan,
akhirnya bola salju yang dimulai oleh sang gadis kecil ini
bergulir dan dalam 5 tahun, berhasil mengumpulkan dana
sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu
(pada pergantian abad,jumlah ini dapat membeli emas seberat 1 ton).

Inilah hasil nyata cinta kasih dari seorang gadis
kecil yang miskin, kurang terawat dan kurang makan,
namun perduli pada sesama yang menderita.
Tanpa pamrih, tanpa pretensi.

Saat ini, jika anda berada di Philadelphia,
lihatlah Temple Baptist Church,
dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang dan
Temple University, tempat beribu ribu murid belajar.
Lihat juga Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan special
untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus
(yah,beratus ratus) pengajarnya, semuanya itu untuk memastikan
jangan sampai ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat
di Sekolah MInggu.

Didalam salah satu ruangan bangunan ini,
tampak terlihat foto si gadis kecil
yang dengan tabungannya sebesar 57 sen,
namun dikumpulkan berdasarkan rasa cinta kasih sesama
yang telah membuat sejarah.
Tampak pula berjajar rapih foto sang pastur yang baik hati
yang telah mengulurkan tangan kepada si gadis keci miskin itu,
yaitu pastor DR.Russell H.Conwell penulis buku “Acresof Diamonds” -
a true story.

Oleh: Ombowstring

http://library.temple.edu/collections/special_collections/hattie.jsp

Read the rest of this entry

Menulis di Atas Pasir

http://www.duniavenus.com
Kisah tentang 2 orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya.
Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir: “HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU.”
Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam, sehingga dia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah dia oleh sahabatnya.
Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu : “HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.”
Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”
Temannya sambil tersenyum menjawab,”Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu.” Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.
http://www.duniavenus.com

I love my brother

http://www.duniavenus.com/

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..” Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja
reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar-ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : “I cried for my brother six times”

i love u my brother…
God Bless u…
http://www.duniavenus.com/

Cinta itu seperti seseorang yang menunggu bis.
(http://www.duniavenus.com )

Sebuah bis datang, dan kamu bilang, “Wah…terlalu
sumpek dan panas, nggak
bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja”

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan
berkata, “Aduh bisnya
kurang asik nih dan kok gak cakep begini… nggak mau
ah..”

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi
dia seakan-akan tidak
melihatmu dan melewatimu begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong,
cukup bagus, tapi kamu
bilang, “Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan”. Maka
kamu membiarkan bis
keempat pergi..

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa
terlambat pergi ke
kantor.

Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu
langsung melompat masuk
ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya
sadar kalau kamu salah
menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu
tuju! Dan kamu baru
sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..

Moral dari cerita ini, sering kali seseorang menunggu
orang yang
benar-benar ‘ideal’ untuk menjadi pasangan hidupnya.
Padahal tidak ada orang
yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun
sekali-kali tidak akan
pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia. Tidak
ada salahnya memiliki
persyaratan untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya
juga memberi kesempatan
kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan
jurusan yang sama
seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak
cocok, apa boleh
buat.. tapi kamu masih bisa berteriak ‘Kiri !’ dan
keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu,
semuanya bergantung
pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki
sendiri menuju kantormu,
dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang
yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kamu benar-benar
menemukan bis yang kosong,
kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya
sejurusan dengan tujuanmu,
kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis
tersebut di depanmu.
Untuk dia memberi kesempatan kamu masuk ke dalamnya.
Karena menemukan yang
seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga
dan sangat berarti.
Bagimu sendiri, dan bagi dia. Bis seperti apa yang
kamu tunggu?
(Silvia)

Suami Teladan

Sekumpulan pria berada di ruang ganti di salah satu tempat gym
terkemuka dan eksklusif di pusat kota. Tiba2 terdengar deringan hp di penjuru ruangan itu. Salah satu dari pria itu menjawab panggilan tersebut dan terjadilah obrolan berikut:

“Hallo?”

“Abang, ini ayang.”

“Eemmmmm….”

“Abang masih di tempat gym ya?”

“iya…”

“Ayang sekarang lagi ada di shopping complex dekat tempat gym
abang. Ayang liat Louis Vuitton punya koleksi tas baru. Harganya
murah kok, Cuma Rp. 7.000.000 aja… Boleh beli nggak, Bang?”

“O.K, belilah kalau kamu sudah sangat menyukainya.”

“Ahhhhh….thanks abang,dan tadi sebelon ayang datang
kesini,ayang ada singgah ke pameran mobil dan ngeliat mobil Mercedes terbaru.

Ayang suka banget dengan modelnya, dan ayang juga sudah ngobrol
dengan penjualnya dan dia setuju mau kasi ‘good price’. Lagian kan bagus juga kalo mobil BMW yg kita beli thn lalu itu ditukar dengan yg baru.

“Berapa harga yang dia kasih?”

“Lagi harga promo, jadi Cuma Rp. 550 juta aja, bang…”

“O.K pastikan harga itu sudah ‘on the road’.”

“Great, ada 1 lagi, bang.”

“Apa?”

“Tadi pagi ayang iseng-iseng singgah ke agent real estate dan
ternyata rumah yg kita liat kemarin2 itu ternyata dijual..!!! Abang ingat ga?? Rumah seluas 1000 meter di Kebayoran Baru yang ada kolam renang berbentuk love, trus ada taman orchidnya dibelakang rumah yang berhadapan lapangan tennis itu, dan yang garasinya muat 4 mobil itu….Cantik kan bang?”

“Berapa harga yang mereka minta?”

“Cuma Rp 10 milyar saja. ok kan harganya,dan ayang liat kalo
tabungan abang cukup buat beli itu.”

“Baguslah kalau begitu. Kalo kamu bisa tawar jadi Rp 8,5 milyar silakan aja…”

“OK abang sayang,terima kasih bang. kita jumpa nanti malam ya?? I luv u.”

“bye…i luv u too.”

Pria itu berhenti ngomong dan menutup flip hp nya.sambil mengangkat tangan dan memegang hp itu,dia bertanya pada orang2 yang di ruangan tersebut dan dengan suara keras dia bilang gini :

” ADA YANG TAU NGGAK, HANDPHONE INI SIAPA YANG PUNYA???”

Excellent way of telling bad news…

At dawn the telephone rings…

“Hello, Master Carlos? This is Arnaldo your country
house caretaker”

“Ah yes, Mr. Arnaldo. What can I do for you? Is there
a problem?”

“Um, I am just calling to advise you, sir, that your
parrot died”

“My parrot? Dead? The one that won the competition?”

“That’s the one.”

“Darn! That’s such a pity! I spent a small fortune on
that bird. Oh well…
what did he die from?”

“From eating rotten meat.”

“Rotten meat? Who was so mean as to give him meat?”

“Nobody. He ate the meat of one of the dead horses.”

“Dead horse? What dead horse Mr. Arnaldo?”

“Why, those pure breed ones that you had, sir. They
died from all that
work pulling the water cart.”

“Are you insane? What water cart?”

“The one we used to put out the fire.”

! “Good Lord! What fire are you talking about, man?”

“The one at your house! A candle fell and then the
curtain caught
on fire.”

“What the…!!! But there’s electricity at the
house!!!!
What was the candle for???”

“For the funeral.”

“WHAT BLOODY FUNERAL???!!!!!”

“Your mother’s! She showed up one night out of the
blue and I thought
she was a thief, so I shot her.”

Tuhan itu ada…

FW: Tuhan itu ada…
Original message from Alfon from Martha:
Message:
———————————-

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.

Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.

“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.

“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.

Read the rest of this entry

Catatan Harian Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
…..

Source : Silvia – XILS

Read the rest of this entry